Quote by Imam Muhammad Al-Baqir

Knowledge and science is the fruit of paradise; in times of threat it is one's ally, in exile it keeps one company, and in solitude it is one's intimate friend and companion - Quotes By Imam Muhammad Al-Baqir Ibn Ali Zainal Abidin Ibn Al-Hussein Ibn Ali Ibn Abi Talib

10/04/2012

Jangan mendoakan anak2 anda dengan doa yang buruk



Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa, doa ayah ibu untuk anaknya, berupa doa baik ataupun doa buruk, adalah termasuk doa yang mustajab.
Dan kisah berikut ini, disamping merupakan salah satu pembuktian akan kebenaran hadits Nabi SAW, sekaligus menjadi pelajaran berharga dan peringatan penting bagi setiap orang tua, agar tidak terlalu mudah  mengeluarkan kata-kata negatif terhadap anaknya, kerana ia boleh menjadi doa buruk yang terkabulkan atas anak kesayangan, meskipun semua ucapan tersebut tidak benar-benar diniatkan sebagai doa yang serius!

Dengan wajah penuh kesedihan dan penyesalan, seorang ayah bercerita:
Aku dulu punya seorang anak laki-laki yang telah memasuki usia remaja. Aku sangat membanggakan dan menyayangi anakku tersebut. Karena ia termasuk anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Kisahku bermula pada suatu malam, saat kami sekeluarga sudah bersiap-siap untuk istirahat dan tidur, ketika tiba-tiba anak kesayanganku yang kuceritakan itu mendatangiku seraya berkata: Ayah, aku sudah jenuh belajar, maka aku mohon izin untuk keluar jalan-jalan sebentar barang setengah jam saja, lalu aku akan pulang lagi setelah itu. Tapi aku menjawab dengan mengatakan kepadanya: Jangan anakku, ini ‘kan sudah malam, orang-orang sudah pada tidur, dan kamu sendiri ‘kan juga sudah memakai baju tidur!
Ia masih berusaha memperoleh izinku sehingga berkata lagi: Aku akan keluar sebentar saja ayahku, Ayah, untuk sekadar merehatkan fikiran setelah penat belajar. Dan aku akan tetap mengenakan jubah tidurku ini, kerana memang aku juga tidak ingin pergi jauh atau lama. Begitu ucapnya, mencuba untuk mempengaruhiku agar mengizinkannya. Tapi aku tetap bertegas melarang dan mencegahnya keluar. Dan kerana ia seorang anak yang patuh, maka iapun lalu pergi meninggalkanku, meskipun mungkin dia menyimpan rasa kecewa atas penolakanku.

Sebentar kemudian, melihat anak lelakinya sedih dan moyok, ibunya pun bertanya: Ada apa denganmu? Ia lalu menjawab: Aku baru minta izin pada Ayah untuk keluar jalan-jalan sebentar, tapi beliau tidak mau memberiku izin! Sesudah itu isteriku yang mendatangiku sambil berkata: Anak kita ‘kan anak yang berbakti dan baik, biarlah dia pergi sebentar, kan dia berjanji akan pulang secepat mungkin?! Dan dengan tekanan-tekanan dari ibunya, akhirnya akupun terpaksa mengatakan: Ya sudah, biarkan dia pergi…! Namun, dan ini yang aku sesali, tanpa sedar dan tanpa sengaja, aku juga mengucapkan kata-kata spontan yang berisi doa buruk atasnya. Yakni aku dengan cuai berucap: … SEMOGA ALLAH TIDAK MEMULANGKANNYA! Ya, memang aku katakan doa itu, namun tentu saja sama sekali aku tidak sungguh-sungguh dalam mengatakannya. Sepertinya ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku. Dan tanpa kusedari bahwa, pintu langit ada waktunya terbuka bagi sesiapa yang berdoa dan doa apa saja!

Sejurus setelah itu anakkupun benar-benar pergi, sampai berlalu satu jam… lalu satu setengah jam … dan dua jam, tapi ternyata dia belum juga kembali. Bahkan sampai waktu adzan subuh berkumandang, putraku tetap belum pulang. Sehingga, kerana terlalu risau, saat itu hatiku bak tertikam tombak. Aku langsung ingat dan sangat khuwatir, jangan-jangan ini gara-gara doa buruk atasnya yang kuucapkan tanpa niat itu!

Akhirnya akupun melapor ke balai polis terdekat. Mereka mencuba menghubungi berbagai pihak . Sampai akhirnya didapati informasi bahawa, pada malam itu telah terjadi sejumlah kemalangan lalu lintas, dan ada beberapa korban yang meninggal. Para petugas lalu menyuruhku untuk pergi ke hospital. Maka secepat kilat akupun meluncur kesana. Dan baru sampai, aku langsung dibawa menuju kamar mayat. Dan la haula wala quwwata illa billah, wa hasbunallahu wa ni’mal wakil, ternyata kerisauanku benar-benar terjadi. Pandangan mataku serta merta tertuju ke arah anak kesayanganku yang telah terbujur kaku diantara mayat-mayat korban kecelakaan maut malam itu! Dan tetap masih dengan baju tidur yang dikenakannya saat meninggalkan rumah dengan niat jalan-jalan itu. Ia adalah korban yang terakhir yang meninggal.

Akhirnya kami keluarkan jasadnya dari bilik mayat hospital tersebut, dan langsung membawanya pulang. Selanjutnya, kami solatkan, lalu kami kuburkan. Dan semua itu aku lakukan dan hadapi dengan keadaan hati yang seakan remuk redam, perasaan yang berkecamuk tidak keruan, dan penyesalan yang tiada tara. Meskipun aku sedar bahawa, inilah taqdir. Namun aku tetap merasa yakin bahwa, akulah penyebab semuanya. Aku tidak hati-hati, sehingga kecuaian berdoa buruk terhadapnya, dan doaku terkabul!
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!


No comments:

Post a Comment